Dekan Psikologi UNAIR Ungkap Tingkat Stres Para PMI

Seputar TKI - Posted by: Jafry Aljawad | 14 Nov 2019 10:52 WIB | 1060
Dekan Psikologi UNAIR Ungkap Tingkat Stres Para PMI
Para Calon Pekerja Migran Indonesia sedang di penampungan (ilustrasi) - Photo : Google

Surabaya, LiputanBMI - Memahami kondisi stres pada seseorang sangat bermanfaat untuk meningkatkan kepercayaan individu atas kemampuannya dalam menghadapi situasi dengan tuntutan tertentu. Hal itu juga harus dimiliki oleh para Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Banyak kasus di media massa para TKI sering mendapatkan perlakuan tidak baik hingga mengakibatkan stres.

Dekan Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Airlangga, Dr. Nurul Hartini, S. Psi., M. Kes., bersama mahasiswa bimbingannya Trisha melakukan penelitian yang mengungkapkan tingkat stres TKI pada pekerjaanya. Stres akulturasi pada para TKI disebabkan proses penempatan yang panjang dan hal ini dapat memberatkan para pekerja.

“Para tenaga kerja migran akan mengalami serangkaian proses dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan, budaya, dan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari yang baru,” ungkapnya.

Nurul juga menambahkan proses adaptasi tersebut dapat mengarah kepada stres akulturasi yang dapat terjadi ketika para tenaga kerja menemui kesulitan dalam menjalani hidup di negara di mana ia ditempatkan. Enam faktor sumber stres, antara lain tingkat ekonomi sangat rendah, kesulitan dalam berbahasa, perbedaan cara pandang, status keimigrasian yang bermasalah, adanya penolakan dari lingkungan sekitar, dan hal-hal baru yang asing berkaitan dengan nilai-nilai dan hukum di negara yang akan ditempati.

Ia juga mengungkapkan bahwa para TKI perlu untuk menerapkan self-esteem. Self esteem merupakan faktor penting yang membantu individu dalam melakukan adaptasi di lingkungan baru. Kepercayaan individu atas kemampuannya dalam menghadapi situasi dengan tuntutan tertentu mampu mereduksi stres dan memberikan dampak positif.

Individu yang memiliki self-esteem dan optimisme tinggi memiliki kemampuan penyesuaian diri terhadap situasi penuh stres yang lebih baik. Tetapi sebaliknya jika self-esteem rendah akan memiliki hubungan dengan stres akulturasi, kecemasan, depresi, ketidakberdayaan, serta kecenderungan bunuh diri baik pada anak-anak dan orang dewasa yang melakukan migrasi.

Tinggi rendahnya self-esteem dipengaruhi oleh dukungan sosial dari keluarga, teman, dan kerabat. Selain itu, faktor budaya kolektif juga memiliki peranan penting dalam meningkatkan self-esteem, kebahagiaan, dan kesehatan mental pekerja migran terutama wanita.

Nurul dalam penelitiannya juga mengungkapkan adanya variabel internal dalam diri para TKI yaitu approach coping atau pendekatan dalam menyelesaikan masalah. Coping efektif dinyatakan sebagai faktor yang mampu mencegah timbulnya efek stres. Coping merupakan faktor penting yang dapat meningkatkan kemampuan adaptasi pekerja migran di lingkungan yang baru.

Para pekerja migran akan memaknai kesulitan yang dihadapinya terkait dengan proses adaptasi secara berbeda-beda. Para TKI jika menerapkan coping efektif, maka mereka dapat beradaptasi dengan cepat dan sukses.

(Source: Unair News)
(JWD/JWD, 14/11)

BACA JUGA

Belum Bisa kembali ke Luar Negeri, PMI Ini Buka Usaha Membuat Sepeda Mini
24 Jun 2020 12:47 WIB | Jafry Aljawad | dibaca 805 kali
Belum Bisa kembali ke Luar Negeri, PMI Ini Buka Usaha Membuat Sepeda Mini
Kasus WNI Positif Corona di Luar Negeri Jadi 809: 400 Sembuh, 45 Meninggal
18 May 2020 02:28 WIB | Jafry Aljawad | dibaca 242 kali
Kasus WNI Positif Corona di Luar Negeri Jadi 809: 400 Sembuh, 45 Meninggal
Hilang 13 Tahun, PMI Asal Subang Dipulangkan ke Indonesia
22 Apr 2020 12:41 WIB | Jafry Aljawad | dibaca 1027 kali
Hilang 13 Tahun, PMI Asal Subang Dipulangkan ke Indonesia
Kehabisan Uang Untuk Pulang ke Kampungnya, PMI Ini Nginap 2 Hari di Bandara
01 Feb 2020 12:31 WIB | Jafry Aljawad | dibaca 1957 kali
Kehabisan Uang Untuk Pulang ke Kampungnya, PMI Ini Nginap 2 Hari di Bandara