Western Union Indonesia WU

Apjati Hasilkan Remitansi 2019 Sebesar Rp 218 Triliun

Seputar TKI - Posted by: Iyad Wirayuda | 10 Nov 2019 11:00 WIB | 853
Apjati Hasilkan Remitansi 2019 Sebesar Rp 218 Triliun
Pekerja Migran Indonesia - Photo : pjtkiresmi.com

Jakarta, LiputanBMI - Mayoritas penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) selama ini adalah melalui sektor swasta (private to private). Perusahaan swasta yang dikenal dengan Perusahaan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) merupakan institusi terbesar dalam menyumbangkan devisa ke negara setelah pemasukan negara dari sektor minyak dan gas bumi.

“Apjati akan terus membantu pemerintah dalam  menyumbangkan devisa melalui penempatan PMI yang terampil ke seluruh manca negara. Mengutip data Bank BRI sampai 2019 tercatat total volume transaksi remitansi sebesar Rp. 218 triliun,” ujar Ketua Umum Apjati, Ayub Basalamah dalam kiriman rilisnya yang diterima LiputanBMI, MInggu (9/11/2019).

Menurut Ayub, tantangan ekonomi Indonesia dalam lima tahun ke depan diakui cukup berat. Mengutip pendapat Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath, Ayub mengatakan ekonomi dunia akan menghadapi masa 'genting' pada 2020 mendatang.

Kegentingan yang tersirat dalam update Outlook Ekonomi Dunia kuartalan meramalkan ekonomi dunia pada tahun ini hanya akan menyentuh 3,2 persen, atau turun dibandingkan proyeksi April yang masih 3,3 persen.

Sementara itu untuk 2020, IMF meramalkan ekonomi dunia akan tumbuh 3,5 persen, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya yang 3,6 persen.

Ayub menjelaskan, kelambanan pertumbuhan ekonomi dunia ini juga akan berimbas kepada Indonesia yang salah satunya ialah dalam hal penciptaan lapangan kerja di dalam negeri. Apalagi Indonesia juga mendapatkan Bonus Demografi yang diprediksi akan terjadi pada 10 tahun ke depan. Yaitu adanya jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) pada 2020-2030 akan mencapai 70 persen, sedangkan 30 persen adalah penduduk dengan usia non-produktif (di bawah 15 tahun dan diatas 65 tahun). Bila dilihat dari jumlahnya, penduduk usia produktif mencapai sekitar 180 juta, sementara penduduk non-produktif hanya 60 juta.

Karena itu, lanjut Ayub tidak ada pilihan lain kecuali Apjati akan mendorong penyiapan PMI yang terampil dan memiliki kompetensi yang dibutuhkan para pengguna di luar negeri.

Kami memahami bahwa pidato Presiden Jokowi tentang perlunya bangsa ini menyiapkan agenda SDM unggul untuk bisa bersaing dengan negara-negara lain itu memang merupakan agenda yang kita persiapkan untuk 5 tahun ke depan.

Negeri Filipina, kata Ayub, mengandalkan pemasukan utama dari sektor Pekerja Migran yang memiliki kompetensi tinggi. Padahal, jumlah penduduknya lebih kecil dari Indonesia tetapi nilai remitansinya setahun 24 miliar dollar.
   
Ayub menambahkan, peningkatan remitansi ini berkaitan dengan PMI yang terampil, bersertifikat,  memiliki kemampuan bahasa di negara penempatan,  termasuk mampu berbahasa Inggris merupkan bonus utama bagi PMI.

Apjati memahami, bahwa sumber pemasukan dari bahan baku fosil tentu suatu saat akan habis. Karena itu, Apjati bersama stakeholder terkait terus mendorong pengembangan kompetensi PMI agar memiliki daya saya tinggi. Asumsinya, dengan  dengan jumlah penempatan PMI yang besar seharusnya remitansi yang dihasilkan juga besar.

Pada saat bersamaan, lanjut Ayub, Apjati juga terus melakukan peningkatan kualitas PMI melalui  Sistem Penempatan Satu Kanal (SPSK) ke Arab Saudi yang sudah berjalan saat ini. Selama 8 tahun devisa kita dari Timur Tengah menurun drastis lantaran tidak ada penempatan PMI. Karena itu, dengan pembukaan penempatan PMI ke Arab Saudi diharapkan akan meningkatkan remitansi  dari Arab Saudi.  Selain itu, Apjati juga sedang menjalin kerjasama dengan negeri China  di sektor Awak Buah Kapal (ABK), perikanan dan sektor manufaktur lainnya.

Catatan Apjati selama kunjungan ke negeri Tirai Bambu 2 (dua) bulan lalu melihat adanya permintaan yang tinggi untuk penempatan PMI berketerampilan di sektor kelautan dan perikanan. Saat ini sudah banyak pekerja asing dari Kamboja, Vietnam, Myanmar, dan Bangladesh yang bekerja di sektor kelautan dan perikanan.

“Galangan industri kapal perikanan laut China banyak membutuhkan ABK dan PMI di sektor manufacture pengolahan hasil ikan. Intinya, Apjati dalam 5 tahun ke depan akan terus membantu peningkatan remitansi kepada negara melalui penempatan PMI berkualitas, kompeten dan memiliki daya saing yang tinggi,” pungkas Ayub.
(IYD/IYD, 10/11)

BACA JUGA

Ini Ungkapan Keluarga PMI Indramayu Setelah 15 Tahun Terpisah
25 Nov 2019 01:27 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 682 kali
Ini Ungkapan Keluarga PMI Indramayu Setelah 15 Tahun Terpisah
Muyasiroh, PMI Asal Indramayu Tiba di Tanah Air Setelah 15 Tahun Hilang Kontak
24 Nov 2019 06:06 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 4401 kali
Muyasiroh, PMI Asal Indramayu Tiba di Tanah Air Setelah 15 Tahun Hilang Kontak
Jadi YouTuber, PMI di Arab Saudi Ini Raup Puluhan Juta Rupiah Sebulan
22 Nov 2019 09:47 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 6798 kali
Jadi YouTuber, PMI di Arab Saudi Ini Raup Puluhan Juta Rupiah Sebulan
 Muslimat NU Saudi Arabia Minta Menaker Cabut Izin PT Inti Jaffarindo
10 Nov 2019 08:48 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 2412 kali
Muslimat NU Saudi Arabia Minta Menaker Cabut Izin PT Inti Jaffarindo
Polres Subang Tetapkan Rohim dan Suci Sebagai DPO Kasus Penipuan Calon PMI
04 Nov 2019 07:29 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 3266 kali
Polres Subang Tetapkan Rohim dan Suci Sebagai DPO Kasus Penipuan Calon PMI