Western Union Indonesia WU

Anakku Pulanglah Sebelum Kau Terlambat

Cerpen Puisi - Posted by: Yully Agyl | 05 Jun 2019 09:17 WIB | 1239
Anakku Pulanglah Sebelum Kau Terlambat
Ilustrasi - Photo : Google

Nasional, LiputanBMI - "Seumpama aku dan bapaknya punya kesalahan yang fatal, kami berdua mau minta maaf. Aku hanya ingin dia telepon sebentar saja. Mengabarkan kami, orangtuanya. Apalagi kalau dia mau pulang menjenguk sebentar, kami akan sangat bahagia," ujar perempuan itu dengan mata berkaca-kaca.


Terlihat sekali kesedihan yang luar biasa di wajahnya. Tubuhnya kurus tak terurus. Rambutnya seperti tidak mengenal sisir beberapa hari, kusut dan hanya diikat tali karet begitu saja.


Dia duduk di pinggir ranjang sambil memandangi wajah suaminya yang terbaring tak berdaya. Tatapan mata suaminya terlihat kosong. Badannya pun juga kurus digerogoti sakitnya.


"Apa anak ibu itu tidak pernah pulang?" tanyaku.


"Tidak pernah sama sekali, sembilan tahun sudah dia di Hong kong."


"Hari raya juga tidak pulang?" tanyaku menegaskan.


"Tidak pernah, bahkan sudah tiga kali hari raya telepon meminta maaf pun tidak."
Ada getar dalam suara Ibu itu. Dia menahan tangis


"Suami Ibu sakit apa?" tanyaku mengalihkan percakapan.


"Komplikasi jantung dan ginjal," jawabnya.


"Ibu sendirian saja?"


"Iya. Anakku empat, yang sulung perempuan yang kerja di Hong Kong itu. Yang nomer dua di Kalimantan, laki-laki. Yang nomer tiga ikut istrinya di luar kota. Sedangkan yang bungsu, baru beberapa bulan berangkat kerja ke Malaysia," jelasnya.


"Apa Ibu tidak punya menantu?" tanyaku semakin ingin tahu.


"Suami anakku yang di Hong Kong tinggal sekampung, tapi entah kenapa mereka juga tidak mau peduli dengan kami. Bahkan beberapa kali bapaknya keluar masuk rumah sakit, dia gak peduli. Yang di Kalimantan juga tak mungkin pulang, terbentur ekonomi. Yang nomer tiga, jarang-jarang pulang pula."


Perempuan yang usianya sudah lebih dari enam puluh tahun itu meluapkan semua unek-unek di hatinya. Aku berusaha menjadi pendengar setia, walau sesekali kuselingi membetulkan letak selimut bapakku yang ranjangnya berdampingan dengan ranjang suami ibu itu


"Kami dulu bukanlah orang yang kekurangan. Suamiku anak tunggal dari keluarga berada. Sawah mertuaku luas di beberapa tempat. Rumahnya terbilang besar. Anak-anakku adalah cucu kesayangan mertuaku. Dari kecil, apa pun keinginannya bisa terpenuhi. Apalagi suamiku juga seorang PNS," cerita ibu yang belum kutahu siapa namanya itu.


"Wah kalau itu bapak sudah jadi PNS, berarti keluarga ibu termasuk keluarga terpandang," celetukku.


"Begitulah."


Dia pun berkisah tentang masa lalunya, rumah tangga dan kehidupan anak-anaknya di waktu kecil. Sesekali dia tersenyum bila mengungkapkan kenangan indahnya. Namun, aku melihat ada air menetes di sudut matanya. Dia menangis.


Mungkin selama ibu itu memendam semua rasa hatinya sendiri dan sekarang dia ingin meluapkannya. Ternyata benar ungkapan yang mengatakan "Orang tua sanggup menjaga dan membesarkan banyak anak, namun banyaknya anak tidak menjamin masa tua orangtua terjaga dan terurus."


Cerita ibu itu terus mengalir. Harta benda peninggalan mertua habis karena gaya hidupnya dan karena suaminya kecanduan judi. Ada nelangsa dalam hatiku, membayangkan seandainya aku menjadi ibu itu. Apakah aku kuat? Selain merawat suaminya, dia juga harus bekerja apa pun untuk menutupi kebutuhan hidup.
Aku tak berani bertanya banyak, cukup menjadi pendengar dan memberi semangat.


"Kuakui, dulu kami berdua terlalu memanjakan anak-anak dalam segi materi dan tidak diimbangi dengan akhlak yang baik...beginilah jadinya."


"Sabar ya, Bu. Semoga anak-anak ibu terbuka hatinya dan ingat orang tuanya dan Bapak segera pulih sehat kembali," ucapku sambil mengelus punggungnya yang terguncang menahan tangis.


"Iya. Aku hanya takut, mereka terlambat. Mereka tak sempat meminta maaf kepada bapaknya. Aku sudah berusaha mengingatkan, tapi mereka tak peduli. Aku sudah angkat tangan untuk biaya rumah sakit dan dokter juga sudah pasrah. Aku hanya ingin salah satu dari anakku ada yang selalu menemani kami. Pulanglah anakku... pulanglah, sebelum kau terlambat."


Kupeluk dia dan tangisnya pun tumpah.


****Tamat****

Cerpen ini terinspirasi dari kisah nyata.


(YLA/YLA, 05/06)

BACA JUGA

Korea Selatan Akan Perketat Peraturan Permintaan Pulang Imigran Ilegal
07 Oct 2019 08:53 WIB | Yully Agyl | dibaca 474 kali
Korea Selatan Akan Perketat Peraturan Permintaan Pulang Imigran Ilegal
Hobby Bersepeda, PMI di Taiwan Bisa Raih Prestasi
05 Oct 2019 09:07 WIB | Yully Agyl | dibaca 941 kali
Hobby Bersepeda, PMI di Taiwan Bisa Raih Prestasi
Kompensasi Hingga NTD 5 Juta Untuk ABK yang Meninggal Karena Jembatan Runtuh
02 Oct 2019 10:47 WIB | Yully Agyl | dibaca 2385 kali
Kompensasi Hingga NTD 5 Juta Untuk ABK yang Meninggal Karena Jembatan Runtuh
PMI di Taiwan Terhipnotis, Niat Menolong Malah Tertipu Rp 23 Juta
13 Sep 2019 11:38 WIB | Yully Agyl | dibaca 2646 kali
PMI di Taiwan Terhipnotis, Niat Menolong Malah Tertipu Rp 23 Juta
300 Pekerja Migran Sektor Pertanian Akan Segera Tiba di Taiwan
06 Sep 2019 07:43 WIB | Yully Agyl | dibaca 855 kali
300 Pekerja Migran Sektor Pertanian Akan Segera Tiba di Taiwan