Western Union Indonesia WU

Hukum di Taiwan Makin Ketat, Penjara 6 Bulan Jika Tinggalkan Pasien Sendirian

Seputar TKI - Posted by: Hani Tw | 11 May 2019 10:41 WIB | 9972
Hukum di Taiwan Makin Ketat, Penjara 6 Bulan Jika Tinggalkan Pasien Sendirian
Hukuman penjara 6 bulan bagi pekerja perawat pasien yang meninggalkan pasien sendirian - Photo : Dokumen TCESIA

Taipei, LiputanBMI - Masih belum hilang dalam ingatan kita kasus yang menimpa PMI, Kuniarsih (文文) yang divonis hukuman penjara 6 bulan gara-gara meninggalkan pasien yang dirawat kemudian kabur akhir April lalu.
Kasus yang sama juga menimpa Cindy, PMI asal Cilacap yang meninggalkan pasiennya sendirian kemudian kabur. Selain harus menjalani hukuman penjara 6 bulan, ia juga harus membayar tuntutan majikan sebesar NTD 20.000 atas kecerobohannya meninggalkan pasien sendirian.

Ini adalah bukti bahwa pekerja migran tidak boleh main-main dengan pekerjaan yang diembankan kepadanya apalagi dengan hukum di Taiwan. Dulu, jika ada kasus seperti ini tidak akan sampai ke pengadilan, kecuali pasien yang ditinggalkannya mengalami cidera atau meninggal dunia. Mungkin perawatnya hanya akan dipulangkan ke negara asal dan akan di blacklist tidak bisa masuk Taiwan lagi.

Seperti dijelaskan oleh Louise Hwang, petugas TCESIA kepada LiputanBMI (11/5/2019), sekarang hukum di Taiwan semakin ketat, tidak seperti dulu lagi. Jangan mengira meninggalkan pasien yang menurut kita tidak membahayakan pasien, kita akan bebas dari jeratan hukum.

“Kita harus mengingatkan pekerja migran, jangan sembarangan meninggalkan pasien sendirian kemudian kabur. Sekarang hukum di Taiwan semakin ketat, jika tidak mau dipenjara maka patuhi peraturan, “jelasnya melalui pesan elektrik.

Lebih lanjut dikatakan, seperti kasus Kuniarsih yang telah ceroboh meninggalkan pasiennya, Ama yang berumur 90 tahun, meskipun tidak terjadi sesuatu dengan Ama akan tetapi ia tetap divonis dengan hukuman 6 bulan penjara atau menggantinya dengan denda sebesar NTD 180.000.

Menurut Louise, kasus yang sering terjadi pada pekerja migran yang ia temui, pihak pengadilan mengatakan bahwa kasus pekerja migran sangat ribet karena harus mencari penerjemah, sehingga tanpa melalui proses pengadilan langsung memvonis bahwa pekerja migran bersalah atau yang dalam bahasa mandarin dinamakan jien yi pan jie (簡易判決) .

“Pihak pengadilan merasa kasus yang menimpa pekerja migran sangat ribet, harus mencari penerjemah. Jadi mereka memutuskan pekerja migran bersalah tanpa harus melalui sidang, “ungkapnya dengan perasaan kecewa.

TCESIA mengingatkan, apabila pekerja migran mengalami masalah yang menyangkut hukum di Taiwan, sebaiknya segera memberitahu agen untuk meminta bantuan ke pusat lembaga bantuan hukum supaya meneruskan gugatan. Keterlambatan laporan dari pekeja migran, pihak TCESIA tidak mempunyai banyak waktu untuk menindaklanjuti atau naik banding.

“Sebaiknya pekerja migran meminta agen untuk menghubungi kami (TCESIA) jika agen tersebut adalah anggota kami, dan apabila agen tidak mempunyai kuasa hukum, ia tidak bisa melindungi pekerja migran, maka pekerja migran bisa mengajukan pindah agen, “jelasnya.

Mengingat setelah hakim memutuskan bahwa pekerja migran bersalah, maka depnaker akan langsung memutuskan surat kontrak kerjanya dan dalam waktu 14 hari, sesuai dengan peraturan depnaker dan imigrasi Taiwan pekerja migran harus meninggalkan Taiwan. Apabila dalam waktu yang ditentukan pekerja migran tidak meninggalkan Taiwan, maka agen akan dikenakan denda NTD 60.000 oleh depnaker.
(HNI/YLA, 11/05)

BACA JUGA

ABK yang Jatuh ke Laut di Perairan Penghu Taiwan Belum Ditemukan
26 Jun 2019 10:23 WIB | Hani Tw | dibaca 1003 kali
ABK yang Jatuh ke Laut di Perairan Penghu Taiwan Belum Ditemukan