Western Union Indonesia WU

PMI, Kartini Masa Kini yang (Masih) Sering Terzalimi

Opini - Posted by: Figo Kurniawan | 21 Apr 2019 07:51 WIB | 438
PMI, Kartini Masa Kini yang (Masih) Sering Terzalimi
(Almh) Adelina (kiri) dan RA Kartini - Photo : LBMIMY

Kuala Lumpur, LiputanBMI - Perjuangan Raden Ajeng (RA) Kartini tentang emansipasi wanita adalah tonggak sejarah perjuangan wanita Indonesia. Upaya menentang diskriminasi gender yang diperjuangkan RA Kartini telah melahirkan Kartini-Kartini masa kini, wanita-wanita hebat yang mampu keluar dari kungkungan keterbatasan dan ketimpangan akibat budaya patriarki, penafsiran agama yang banal, dan kebijakan yang absurd.

RA Kartini adalah sosok yang berpikir maju tentang masa depan. Ia sangat kuat mendorong pentingnya pendidikan untuk kaum wanita. Namun sayangnya, kemiskinan dan keterbatasan pendidikan yang dialami sebagian masyarakat dewasa ini, memaksa Kartini-Kartini masa kini melangkah pergi. Menjadi pekerja migran di negeri orang dengan harga diri bahkan nyawa sebagai taruhan, terpaksa menjadi pilihan.

Apakah itu yang dicita-citakan RA Kartini? Emansipasi yang justru membuat sebagian wanita Indonesia tereksploitasi di luar negeri? Tentu saja tidak!

Sederet kisah sedih PMI yang tak dibayar gaji, disiksa majikan, bahkan ada yang meregang nyawa atau dihukum mati atas dakwaan sebuah perbuatan yang belum tentu mereka lakukan sudah pasti membuat RA Kartini menangis.

Terbaru, kabar dibebaskannya seorang majikan di Malaysia yang didakwa menyiksa PMI asal NTT, Adelina Sau hingga meninggal dunia, sungguh terasa begitu merajam jiwa. Keadilan bagi pekerja migran wanita (Indonesia) seolah tidak pernah benar-benar ada.

Akan tetapi, RA Kartini tentu bangga melihat jutaan wanita Indonesia mampu menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anak mereka, meski terpaksa harus meninggalkan keluarga di kampung halaman, mengais rezeki di negeri orang.

RA Kartini pasti bangga melihat kaumnya yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga di negeri orang sanggup dan mampu membagi waktu untuk melanjutkan pendidikan. Banyak di antara mereka yang kuliah, kursus keterampilan, dan ada pula yang belajar tentang kepenulisan hingga mampu menerbitkan buku serta aktif di pelbagai organisasi untuk mengadvokasi saudaranya yang tertimpa masalah.

Memaknai hari Kartini tidak cukup dengan acara seremonial, sehingga berkesan hanya sekadar acara bersanggul dan berkebaya. Perjuangan RA Kartini harus dimaknai secara konkret dan aplikatif untuk kemajuan bangsa.

Tak bisa dipungkiri, PMI yang didominasi kaum wanita mempunyai andil yang cukup besar terhadap pemasukan devisa negara dalam setiap tahunnya. Aliran remitansi yang dikirim oleh PMI mampu menggerakkan roda ekonomi di daerah-daerah – kampung halaman yang mereka tinggalkan.

RA Kartini berjuang dengan cara mendirikan sekolah karena ingin menjadikan kaum wanita lebih terdidik. Kartini masa kini yang menjadi PMI berjuang di negeri orang untuk memperbaiki taraf hidup agar tidak hanya mendapat uang tapi juga agar dapat melanjutkan pendidikan untuk dirinya.

Bagi yang sudah berkeluarga, mereka berjuang mencari uang, tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan sandang-pangan-papan, tetapi juga untuk biaya menyekolahkan anak-anak yang mereka tinggalkan.

RA Kartini pasti bangga melihat wanita Indonesia sudah mampu mendobrak cara pandang feodal dominasi laki-laki dalam bidang pekerjaan. Tak terkecuali , para pekerja migran wanita yang mampu menjadi tulang punggung keluarga.

Raden Ajeng Kartini, jangan menangis! Di balik kisah sedih kaummu yang teraniaya, ada berjuta kisah jaya yang tak terekspose media.

***

Selamat Hari Kartini 21 April 2019

(FK/FK, 21/04)

BACA JUGA

Hingga 18 Juni 2019, 3.767 PMI Tak Berdokumen Jadi Tahanan Imigrasi Malaysia
22 Jun 2019 10:53 WIB | Figo Kurniawan | dibaca 1113 kali
Hingga 18 Juni 2019, 3.767 PMI Tak Berdokumen Jadi Tahanan Imigrasi Malaysia
Kata Hakim, Majikan Adelina Dibebaskan karena Faktor Usia dan Kesehatan
21 Jun 2019 09:49 WIB | Figo Kurniawan | dibaca 2947 kali
Kata Hakim, Majikan Adelina Dibebaskan karena Faktor Usia dan Kesehatan