Mantan PMI Taiwan Jadi Penerjemah Bahasa Mandarin di Indonesia

Sosok - Posted by: Yully Agyl | 18 Nov 2018 02:04 WIB | 7524
Mantan PMI Taiwan Jadi Penerjemah Bahasa Mandarin di Indonesia
Dari kiri: Lyca Tya, Loso Abdi, Dewi Novita Rini, mantan PMI yang jadi penerjemah di Indonesia - Photo : LBMITW

Nasional, LiputanBMI - Bermodal bahasa Mandarin yang dipelajari saat menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Taiwan dan memutuskan untuk tidak lagi menjadi pekerja migran, beberapa orang mantan PMI ini membuktikan bisa mendapatkan gaji yang memuaskan dengan menjadi penerjemah di Indonesia.

Lyca Tya, mantan PMI Taiwan asal Majalengka, Jawa Barat, telah 2 tahun menjadi penerjemah di PT. China Harbour Indonesia, Serang Banten, sebuah perusahaan yang mengerjakan salah satu proyek PLTU Jawa 7. Walau yang dihadapi sebagian besar para pekerja lelaki, tidak menyurutkan niatnya untuk menekuni pekerjaan itu.

"Banyak teman ceweknya kok, cuma ya beda-beda yang didampingi saat bekerja. Selama 2 tahun saya bekerja, Alhamdulillah tidak mengalami kendala yang berarti. Yang penting bisa menjadi penengah yang baik antara pekerja lokal dan pekerja Cina," jelas Lyca kepada LiputanBMI, Sabtu (17/11/2018).

Lyca yang pernah 4 tahun di Taiwan, walau telah lama menjadi penerjemah, lebih memilih tidak terikat kontrak kerja tetap dengan alasan bisa kapan saja mengundurkan diri dan bisa mencari job dengan nego sendiri dan gaji lebih besar.

"3 Bulan pertama gaji saya bersih Rp 4 juta, setelah itu saya pindah dan langsung terjun ke lapangan dan gaji saya Rp 8 juta, bisa lebih kalau mau lembur," ungkapnya.

Kalau Lyca memilih jadi karyawan tidak tetap beda lagi yang dilakukan Loso Abdi, mantan PMI Taiwan yang juga mengikuti jejak Lyca menjadi penerjemah. Loso Abdi yang saat ini bekerja di Mutiara Indah Construction, Bengkulu, hanya 3 bulan menjadi penerjemah dan kemudian menjadi karyawan tetap atas tawaran langsung dari perusahaan.

"Aku sudah satu setengah tahun bekerja di sini. Awalnya juga sebagai penerjemah, tiga bulan kerja ada tawaran langsung dari perusahaan, ya aku terima. Perusahaanku ini memang khusus pekerja dan TKA yang punya skill khusus, kalau untuk pekerja lokal ambil dari outsourching," jelas Loso.

Bicara soal gaji, Loso mengungkapkan tak kalah besar dengan ketika jadi PMI di Taiwan. Menurutnya, di mana pun asal ada usaha dan kerja keras pasti ada hasil. Di dalam negeri dengan gaji seperti luar negeri pun ada, asal mau berusaha.

Kalau Lyca dan Loso sudah lebih dari setahun, Dewi Novita Rini justru baru 6 bulan bergabung di Cilacap Expansion Solar Power Plant (SPP) sebagai penerjemah. Menurutnya, gaji lumayan tinggi untuk basic wanita di Indonesia, apalagi dia yang masih terbilang baru.

Dari uraian mereka bertiga, terdapat kesamaan tentang tidak adanya batasan umur dan status saat mengajukan lamaran. Lulus tes tertulis dan wawancara adalah modal utama diterima sebagai pekerja di perusahaan-perusahaan tersebut.

Mereka hanya sebagian kecil dari mantan PMI yang berhasil mendapatkan pekerjaan dengan gaji lumayan dari dasar ketrampilan ketika menjadi PMI. Ini membuktikan, bahwa apa yang bisa dipelajari di rantauan akan bermanfaat pula di negeri sendiri asal diiringi dengan niat, usaha yang pantang menyerah.
(YLA/YLA, 18/11)

BACA JUGA

Korea Selatan Akan Perketat Peraturan Permintaan Pulang Imigran Ilegal
07 Oct 2019 08:53 WIB | Yully Agyl | dibaca 3098 kali
Korea Selatan Akan Perketat Peraturan Permintaan Pulang Imigran Ilegal
Hobby Bersepeda, PMI di Taiwan Bisa Raih Prestasi
05 Oct 2019 09:07 WIB | Yully Agyl | dibaca 2256 kali
Hobby Bersepeda, PMI di Taiwan Bisa Raih Prestasi
Kompensasi Hingga NTD 5 Juta Untuk ABK yang Meninggal Karena Jembatan Runtuh
02 Oct 2019 10:47 WIB | Yully Agyl | dibaca 4405 kali
Kompensasi Hingga NTD 5 Juta Untuk ABK yang Meninggal Karena Jembatan Runtuh
PMI di Taiwan Terhipnotis, Niat Menolong Malah Tertipu Rp 23 Juta
13 Sep 2019 11:38 WIB | Yully Agyl | dibaca 4544 kali
PMI di Taiwan Terhipnotis, Niat Menolong Malah Tertipu Rp 23 Juta
300 Pekerja Migran Sektor Pertanian Akan Segera Tiba di Taiwan
06 Sep 2019 07:43 WIB | Yully Agyl | dibaca 2483 kali
300 Pekerja Migran Sektor Pertanian Akan Segera Tiba di Taiwan