Mudik Bareng BRI

Warisi Jiwa Seni Orang Tua, PMI Asal Ngawi Ini Lestarikan Seni dan Budaya di Hong Kong

Komunitas - Posted by: Wijiati Supari | 10 Jun 2018 11:48 WIB | 650
Warisi Jiwa Seni Orang Tua, PMI Asal Ngawi Ini Lestarikan Seni dan Budaya di Hong Kong
Kartika (tengah), bersama kawan-kawan dalam grup tari Kencono Wungu - Photo : LBMI/HK

Hongkong, LiputanBMI - Terlahir dari keluarga seniman membuat Kartika seorang pekerja migran Indonesia (PMI) asal Ngawi, Jawa Timur ini tergerak untuk melestarikan warisan budaya leluhur di negeri orang.

Berbekal niat dalam keterbatasan waktu, dia berhasil membentuk grup tari bernama Kencono Wungu pada 1 September 2013. Sejak saat itu ia mengajar seni tari kepada kawan-kawannya sesama PMI.

Kartika, dalam kesempatan berbincang dengan Liputan BMI mengaku mewarisi darah seni dari bapaknya.

"Bapakku dulu seorang penari, Pak Dhe-ku juga seorang dalang yang bisa mengajari menari juga. Sejak kecil aku sudah terbiasa dengan musik gamelan, khususnya gamelan Jawa," tutur PMI yang mengaku menekuni dunia tari sejak berusia 10 tahun.

"Umur 12 tahun aku sudah mulai eksis menari di acara hajatan dan pentas seni panggung hiburan. Dulu keluargaku memiliki sanggar seni wayang orang, dan aku sebagai penari pembukanya," kenangnya.

Adapun tari yang sering dibawakan Kartika kebanyakan adalah tarian Jawa, seperti Serimpi, Gambyong, Merak, Kulilo, Golek, Bondan dan masih banyak lagi.

Kebiasaan ketika masih kecil hingga dewasa itulah yang masih dibawanya sampai di Hong Kong, dan jiwa seninya tidak pernah mati.

"Setelah di Hong Kong aku menari Jaipong belajar dari YouTube, yang sebagian gerakannya aku kreasi sendiri. Aku juga pernah menarikan Jathilan," tuturnya.

Selama ini, Kartika tidak pelit berbagi ilmu kepada siapa saja yang ingin belajar menari kepadanya. Dia siap mengajari segala jenis tari yang dia bisa tanpa dipungut biaya apabila ada yang tertarik belajar, asalkan benar-benar niat untuk belajar menari.

Seperti yang kita ketahui, seorang penari tidak lepas dari kostum yang indah agar tampak menarik ketika di panggung. Untuk mendukung itu Kartika mengaku 90% kostum dan aksesoris yang dipakai adalah hasil jahitannya sendiri, dia memanfaatkan keterampilan menjahitnya untuk menciptakan kostum untuk dipakai tampil.

Sebagai seniman, Kartika mengaku jiwa seninya tidak akan pernah terhenti dimakan usia, bahkan dia tetap akan membawa nama Kencono Wungu ketika pulang ke Indonesia nanti untuk membuka sanggar tari.

"Aku sudah persiapan melobi sekolahan sekitar tempat tinggalku untuk aku mengajar kesenian, terutama seni tari," terangnya.

PMI yang akan kembali ke Indonesia pada bulan Oktober tahun ini menegaskan pentingnya warga negara Indonesia untuk tetap menjaga seni dan budaya meski hidup jauh dari Tanah Air.

"Ini sangat penting sekali, mumpung kita ada kesempatan tinggal di negeri orang, kita perkenalkan budaya kita, karena untuk bisa terpilih jadi duta tari yang dikirim dari Indonesia sangatlah tidak mudah," tuturnya.

"Nah, mumpung kita di sini kita juga bisa menjadi duta tari walaupun belum tentu diakui oleh pemerintah Indonesia. Tetapi tidak ada ruginya kalau memang jiwa kita jiwa seni, akan happy dan bangga bisa melakukan semua ini," imbuh Kartika.

Terkait kiprah Kencono Wungu, Kartika menyampaikan, grup tari ini telah beberapa kali memenangkan perlombaan, hingga saat ini menurut Kartika sudah ada 50 lebih piala di lemari rumahnya.

"Kebanyakan juara 1 dan juara 2, dan di event GRC Intertainment itu saya mendapat gelar Duta Tari karena juara 1. Alhamdulillah, bangga juga ternyata walau umurku sudah kepala 4, tapi masih belum bisa dikalahkan sama yang muda," ungkapnya.

Dengan banyaknya piala yang pernah dibawa pulang, Kartika berharap di Hong Kong masih banyak acara-acara pemilihan duta tari, atau lomba tari tradisional sebagai wadah para PMI yang bergelut di bidang seni tari.

Sepanjang perjalanannya meniti panggung, mereka telah banyak menampilkan kreasi tarinya. Di antaranya Kencono Wungu pernah tampil bersama ibu perdana menteri Hong Kong di acara Women International Day, Culture Etnic Minority Show, Chinese New year Show, Asian Etnic Culture Performance, dan di panggung Temu Kangen Bersama Presiden Jokowi, Flower Show, serta Panggung Merah Putih.

Kartika, Sebelum mengakhiri pembicaraan sempat berpesan untuk PMI, khususnya pecinta seni tari yang masih berada di Hong Kong.

"Seniwati yang berada di Hong Kong teruslah melestarikan budaya kita, supaya kita tidak dipandang sebelah mata, tunjukkan bahwa kita seorang PMI yang cerdas, kreatif membawa nama Indonesia yang harum di negeri orang," tuturnya.

"Dan kalau kita belajar menari jangan hanya asal goyang saja tapi benar-benar dijiwai, keluar dari hati nurani kita, niscaya gerakan kita akan terlihat indah dan tidak meninggalkan pakem yang sebenarnya, semangat Srikandi-srikandi Indonesia, salam satu jiwa!" tutup Kartika.

(WSP/IYD, 10/06)

BNI Saudi Arabia

BACA JUGA

KJRI Gandeng Kepolisian Hong Kong Tangani Kasus Praktik Rentenir Gadai Paspor
05 Jul 2018 11:39 WIB | Wijiati Supari | dibaca 256 kali
KJRI Gandeng Kepolisian Hong Kong Tangani Kasus Praktik Rentenir Gadai Paspor
Rayakan Idul Fitri, KJRI Hong Kong Imbau WNI Patuhi Aturan
14 Jun 2018 12:06 WIB | Wijiati Supari | dibaca 252 kali
Rayakan Idul Fitri, KJRI Hong Kong Imbau WNI Patuhi Aturan
Umat Hindu di Hong Kong Rayakan Kemenangan di Hari Raya Galungan
05 Jun 2018 11:48 WIB | Wijiati Supari | dibaca 324 kali
Umat Hindu di Hong Kong Rayakan Kemenangan di Hari Raya Galungan
 Ribuan BMI di Hong Kong Ikuti Pawai Sambut Ramadan 1439 H
08 May 2018 12:37 WIB | Wijiati Supari | dibaca 310 kali
Ribuan BMI di Hong Kong Ikuti Pawai Sambut Ramadan 1439 H
KJRI Buka Pendaftaran Calon PASKIBRA 2018 untuk BMI di Hong Kong
13 Apr 2018 12:20 WIB | Wijiati Supari | dibaca 915 kali
KJRI Buka Pendaftaran Calon PASKIBRA 2018 untuk BMI di Hong Kong