Western Union Indonesia WU

Tuhan Aku Tetap MemilihMu

Cerpen Puisi - Posted by: Wijiati Supari | 14 Jan 2018 01:43 WIB | 1576
Tuhan Aku Tetap MemilihMu
Menikmati indahnya Tai Tong - Photo : LBMIHK

Hongkong, LiputanBMI - Masih tertata rapi dalam setiap lipatan ingatan, saat tangan ini kembali membuka sehelai daun Sweet Gum yang telah mengering di tengah halaman buku. Tahun demi tahun telah berlalu, namun daun kering yang masih berwarna merah itu tetap setia menemani. Hingga detik ini, telah menginjak tahun ke dua belas ia bersamaku. Daun itu, dulu mampu menggantikannya, mampu menghangatkan jiwa, dan menjadi teman setia dalam setiap waktu saat dia tidak ada di sisiku.

Tapi itu dulu, saat dua hati masih saling memiliki, saat aku akan menjadi miliknya. Kini, masa telah berganti, kami telah berjalan di atas keyakinan masing-masing. Aku tetap memilih keyakinanku, dan dia telah memilih keyakinannya.

“Dien, aku akan menjagamu, sampai Tuhan memisahkan kita, apapun yang akan terjadi. Aku sayang kamu, Dien,” itu katanya dulu. Tepat di atas bangku kayu itu, di bawah pohon Sweet Gum sambil menyibak lembut rambutku. Aku terdiam, menatap ratusan helai daun yang memerah tepat di hadapanku.

Entah, mataku seketika itu berkaca-kaca, menatap jauh, jauh ke arah bukit yang menghijau. Dan pandanganku semakin nanar, hingga menganak sungai menjadi bulir bening di kedua belah mataku. “Aku tau, rasamu terlalu besar untuku, namun, ada pembatas yang tidak mampu aku lalui. Karena kamu dan aku berbeda, bukan hanya kasta, tapi aku tidak mampu mengikutimu, menjadikan Tuhanmu itu juga Tuhanku,” ucapku lirih.

Seketika itu, wajahmu berubah, matamu setajam pisau yang saat itu ingin membelah dadaku, nafasmu bagaikan seekor macan kelaparan yang setiap saat siap menerkamku. Dan saat itu pula, aku berusaha mengakhiri semuanya, tentang cinta yang dilarang dalam ajaran agama yang kami yakini.
***
Hari itu, entah mengapa, tepat di awal tahun, kaki ini seolah-olah ingin kembali mengunjungi Tai Tong, sebuah tempat yang terletak di daerah Yuen Long, New Territories. Sebuah pedesaan perbatasan Cina dengan Hong Kong ini memliki pemandangan sangat indah dengan tanaman pohon Sweet Gumm sebuah tanaman yang memiliki daun berwarna merah saat musim dingin tiba. Di tempat itu pula dulu aku pernah menghabiskan waktu tahun baru bersama dengan dia, calon suamiku yang pada akhirnya aku memilih berpisah karena keyakinan yang berbeda.

Kubiarkan tubuhku terbawa oleh bus menuju tempat yang menyimpan sejuta kenangan. Aku hanya ingin menghabiskan tahun baru sendiri di sana. Menikmati indahnya pohon-pohon berdaun merah di Bulan Januari tersebut, dan melanjutkan perjalanan mendaki gunung dari arah Tai Tong menuju Tsuen Wan. Semua bekal telah tertata rapi dalam rangsel berwrana biru, warna kesukaan aku dan dia.

Bus, terhenti di sebuah pertigaan Tai Tong Road, satu per satu penumpang menghambur ke pintu keluar, begitu juga aku. Tahun baru kali ini aku menginjakkan kaki di sana sendirian. Dan tahun ini sepertinya ada yang berubah di sana, indahnya pemandangan yang mirip di Korea dan Kanada itu membuat para pengunjung meningkat drastis. Tidak seperti tahun lalu, tahun ini jalan-jalan dipenuhi oleh pejalan kaki, hingga taksi tidak diijinkan masuk sampai atas.

Untuk sampai di sana hanya membutuhkan waktu 40 menit, udara dingin sepertinya menambah semangat untuk berjalan lebih cepat, dengan kamera di leher aku membelah udara dingin di antara gerombolan manusia, sesekali mengabadikan sesuatu yang menarik.

Waktu telah menunjukkan pukul 09.00 pagi, cuaca sedang tidak bersahabat, gerimis mulai mengguyur bumi, akhirnya aku mengambil keputusan untuk berhenti sejenak di tempat istirahat. Entah, bumi apa memang terlalu sempit, atau memang kebetulan semata, saat mata ini tidak sengaja menatap sosok yang aku kenal bertahun-tahun, untuk meyakinkan diri bahwa pandangan tidak salah, tanganku dengan spontan mengucek kedua mata. Dan hasilnya memang tidak ada yang salah dengan penglihatanku. Aku melihatnya kembali di antara gerimis dan daun-daun gugur.
***
Antara percaya dan tidak, ternyata aku kembali menemukan dia, sosok laki-laki bermata sipit itu. Namun aku harus menelan kenyataan pahit, karena harus menyaksikan dia tidak sendiri lagi, bersama sosok wanita dan seorang anak laki-laki kira-kira berumur 5 tahun ada di antara mereka.

“Hai, Dien, apa kabar? Lama tidak berjumpa.” Sapanya saat melihat aku berada di tempat tersebut. Ingin rasanya aku lari dari tempat itu saat itu juga, namun hujan dan angin telah merantai kakiku untuk tetap berdiri di tempat itu. Waktu terasa berhenti saat itu.
“Alhamdulillah, baik. Kamu?” jawabku.

“kenalkan, Dien, ini Jessica istriku dan anaku. Maafkan aku, dan…” kalimatnya terhenti. Tanpa menunggu lanjutan kalimatnya, aku mengalihkan arah pembicaraan, karena memang aku sengaja tidak ingin kembali menguak kenangan lama di antara kami.

“Hai Jessica, kenalkan, saya Dien.” Sapaku pada istri laki-laki yang pernah mengisi hari-hariku pada belasan tahun lalu.

“Kak, Dien? Hem… kayaknya nama ini tidak asing di telingaku.” Jawab perempuan blesteran China Indonesia itu.

Kamipun mengahabiskan waktu dengan mengobrol, tapi lebih banyak menceritakan anaknya yang lucu, dan dia lebih banyak diam dan menunduk saat mata ini tidak sengaja bertatapan.
***
Hujan telah reda, dan aku segera mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan, “Sampai jumpa Kak Dien, semoga kita bisa kembali bertemu di lain kesempatan.” Ucap perempuan berlesung pipit itu.

“Dien, tahukan kamu selama ini aku mencarimu? Dien, berapa nomer teleponmu? Berapa, Dien? Dien, aku masih mencintaimu. Jawab dong, jawab,” pintanya lirih di sela-sel istrinya sedang mempersipakan stroller untuk anak semata wayangnya.

“Maafkan aku, sebaiknya kita tidak usah lagi saling berhubungan. Aku tahu kamu masih mencintai aku, tapi lihatlah mereka, anak dan istrimu yang sangat menyayangimu. Mereka sangat membutuhkanmu sebagai suami dan papa. Sayangi mereka.” Ucapku sebelum melambaikan tangan tanda berpisah pada mereka. Dan aku kembali berjalan mengikuti kaki kemana melangkah.

***

Tahun baru kali ini, telah terlewati, masih sama, disaksikan merahnya daun-daun Sweet Gum di Tai Tong, di tempat yang sama di mana selama bertahun-tahun selalu aku menghabiskanya bersama dia, yang kini telah menjadi suami dan ayah dari seorang bocah laki-laki. Namun ada yang lain di tahun baru kali ini, tak ada lagi air mata di pipiku, seperti tahun-tahun baru sebelumnya.

“Ya Allah, terima kasih atas Engkau dengarkan doaku selama ini. Engkau telah membukakan mata hatiku untuk bisa melepaskan dia dari nafsuku. Aku tahu, Engkau akan murka kepadaku kalau aku tetap pada jalanku untuk menjadikannya imam dalam hidupku. Dan aku akan semakin terjerumus pada jurang kemurtadan apabila aku tetap mengikutinya. Terima kasih, Ya Allah.” Ucapku dalam hati, sambil menyusuri jalan setapak yang mengahantarkanku ke lereng gunung yang terletak di Tsuen Wan.

Mungkin, tahun ini berkunjung ke Tai Tong merupakan tahun terakhir untuk aku masukan dalam agenda liburan di setiap awal tahun. Karena memang aku ingin benar-benar menghapus semua kenangan tentang dia, laki-laki yang kini telah bekeluarga, yang sampai detik ini masih menyimpan rasa untuku, namun aku tidak ingin menghancurkan mahligai bersama keluarganya, aku juga tak ingin membuat suram masa depan anak laki-laki berwajah polos buah cinta mereka itu. Dan sejak saat itu, masa depan telah terukir indah di pelupuk mata, dan kembali ke Tanah Air adalah pilihan satu-satunya untuk melupakan semuanya.
(WSP/IYD, 14/01)

BNI Saudi Arabia

BACA JUGA

Sempat Gagal Karena Angin Topan, Khai Bahar Akhirnya Sukses Hibur Penggemar di Hong Kong
22 Aug 2018 11:45 WIB | Wijiati Supari | dibaca 1133 kali
Sempat Gagal Karena Angin Topan, Khai Bahar Akhirnya Sukses Hibur Penggemar di Hong Kong
KJRI HK akan Pastikan Hak PMI yang Meninggal Tertimpa Pohon Terpenuhi
21 Aug 2018 09:47 WIB | Wijiati Supari | dibaca 876 kali
KJRI HK akan Pastikan Hak PMI yang Meninggal Tertimpa Pohon Terpenuhi
Ini Tanggapan Pelatih 12 PMI yang Sukses Kibarkan Merah Putih di  Hong Kong
19 Aug 2018 12:51 WIB | Wijiati Supari | dibaca 465 kali
Ini Tanggapan Pelatih 12 PMI yang Sukses Kibarkan Merah Putih di Hong Kong
Disaksikan Majikan, PMI Tim Paskibra KJRI Hong Kong Ini Sukses Laksanakan Tugas
18 Aug 2018 05:35 WIB | Wijiati Supari | dibaca 3279 kali
Disaksikan Majikan, PMI Tim Paskibra KJRI Hong Kong Ini Sukses Laksanakan Tugas
12 PMI Jadi Paskibra Peringatan HUT RI Ke  73 di KJRI Hong Kong
17 Aug 2018 02:39 WIB | Wijiati Supari | dibaca 584 kali
12 PMI Jadi Paskibra Peringatan HUT RI Ke 73 di KJRI Hong Kong