Mudik Bareng BRI

Sindikat Narkotika Incar TKI, BNN Ajak TKI Kenali Bahaya Narkotika

Seputar TKI - Posted by: Redaksi | 08 Nov 2017 02:53 WIB | 859
Sindikat Narkotika Incar TKI, BNN Ajak TKI Kenali Bahaya Narkotika
AKBP Diah Ariani S SE, M Si, analis pemutus jaringan DIT Interdiksi Badan Narkotika Nasional (BNN) - Photo : LBMI

Hongkong, LiputanBMI - AKBP Diah Ariani S SE, M Si, analis pemutus jaringan DIT Interdiksi Badan Narkotika Nasional (BNN) Indonesia mengungkapkan bahwa Indonesia tidak lagi menjadi negara transit, tetapi sudah menjadi negara pasar narkotika. Hal ini disampaikan AKBP Diah dalam sosialisasi tentang bahaya penyalahgunaan dan pengedaran gelap narkotika, serta upaya pencegahannya, di Ruang Ramayana KJRI Hong Kong, Minggu (29/10).

“Prevenlensi penyalahguna narkotika 2015 mencapai 5,1 juta orang atau (2,8%) dengan kematian akibat barang tersebut 50 orang perhari, dan kerugian ekonomi Rp.63 triliyun per tahun,” ungkap AKBP Diah.

Dalam acara yang dihadiri oleh perwakilan komunitas buruh migran Indonesia, AKBP Diah mengungkap tentang bahaya narkotika yang bisa menganggu daya pikir, daya ingat, konsentrasi, persepsi, perasaan dan juga perilaku yang dapat menimbulkan ketergantungan dan gangguan kesehatan. Untuk hal ini, ia berbagi tips kepada buruh migran agar tidak sampai terjerat dengan narkotika, karena menurutnya orang Indonesia memiliki rasa kasihan atau tidak enak untuk menolak titipan orang.

“Bersikap tegas, berani menolak dan katakan, tidak! Hindari bergaul terlalu dekat dengan pengguna narkotika, menggunakan alasan yang masuk akal saat meninggalkan kawan yang sedang menggunakan narkotika, dan menyibukan diri dengan kegiatan positif, menolak titipan barang kalau mau pulang ke Indonesia, mengunci koper selama bepergian, dan yang terpenting adalah hati-hati menggunakan media sosial,” tuturnya.

“Bagaimana mengenali penyalahguna narkotika? Dengan melihat pemakai berjalan sempoyongan, bicara pelo, apatis, mengantuk, kebersihan dan kesehatan tidak terawat, ditemukan alat suntik dan alat hisap atau bong. Dan banyak bekas sayatan atau suntikan, sering mengurung diri di kamar, kamar mandi, menghindar bertemu keluarga, serta agresif.” Tambahnya.

Adapaun modus operandi yang biasa dilakukan oleh para kurir yang telah berhasil ditangkap petugas dengan barang bukti lengkap adalah narkotika ditaruh di dinding koper yang dikirim dari Hong Kong dan China, barang bukti disembunyikan di dinding tas dan sepatu, dan shabu cair disembunyikan dalam kemasan kaleng yang ditaruh di dalam VCD player, dan ini termasuk jaringan Afrika Barat. Serta kiriman dari Taiwan, barang bukti diselundupkan dalam hiasan teh dari Taiwan, dan narkotika ditelan atau biasa disebut swallow.

Untuk rekrutmen kurir, lanjut AKBP Diah, yang biasa dilakukan oleh sindikat narkotika biasanya sebagian kurir direkrut dari BMI yang berhasil dirayu dan akan pergi dari negara tempat dia bekerja ke negara lainnya.

"Ada yang direkrut secara langsung dan si calon kurir secara sadar mau menjadi kurir dengan segala resikonya biasanya menggunakan alasan ekonomi, mereka direkrut dengan berbagai cara atau pendekatan berupa tipu muslihat, diperdaya, dijebak, seperti dipacari dan diajak nikah di luar negeri, tapi seolah-olah ditunda pernikahannya dan ketika pulang ke Indonesia, dititipi koper berisi narkotika," ungkap AKBP Diah.

Selain di atas, calon korban juga diajak jalan-jalan gratis ke luar negeri, tetapi ketika pulang ditipi koper berisi narkotika. Sedangkan pihak yang mengajak pulangnya tidak bersamaan, atau diajak kerjasama membangun bisnis di luar negeri, setelah hubungan terjalin baik, kemudian ketika mau pulang dititipi koper, dan dititpi paket berupa kotak atau doss oleh teman yang berisi narkotika.

“Calon korban juga dipinjami alamat untuk menerima paketan dari luar negeri, ternyata paketan berisi narkoba. Dan yang perlu diwaspadai, mereka juga melakukan pendekatan media sosial terutama Facebook,” ungkapnya.

Di akhir acara, AKBP Diah juga menyampaikan ketentuan-ketentuan hukuman pidana yang diterima oleh penyalahgunaan narkotika apabila sampai tertangkap oleh petugas. Yaitu pidana pasal 111 sampai dengan 148. Yaitu, bila tertangkap dan terbukti menjadi pengguna akan dikenakan pasal 127, dengan ancaman hukuman paling lama 4 tahun. Dan apabila terbukti memiliki, pengedar atau kurir akan dikenakan pasal 111, 112, 114, dan 115, dengan ancaman hukuman paling singkat 6 tahun dan paling lama 20 tahun. Serta, untuk produsen, pengimpor, pengekspor dikenakan pasal 113 dengan ancaman 15 tahun penjara, seumur hidup dan hukuman mati. Tetapi hukuman juga tergantung berat, jumlah dan golongan. ( Wijiati Supari)
(RED/RED, 08/11)

BNI Saudi Arabia

BACA JUGA

PMI Asal Majalengka Dipukul Anak Majikan yang Mabuk
01 Sep 2018 01:09 WIB | Redaksi | dibaca 759 kali
PMI Asal Majalengka Dipukul Anak Majikan yang Mabuk
Masih Bingung Perpanjang Paspor Secara Mandiri di KDEI, Begini Caranya
31 Aug 2018 03:35 WIB | Redaksi | dibaca 1148 kali
Masih Bingung Perpanjang Paspor Secara Mandiri di KDEI, Begini Caranya
Kasihan, PMI Ini Disiksa Majikan Sampai Patah Tulang
30 Aug 2018 01:43 WIB | Redaksi | dibaca 3063 kali
Kasihan, PMI Ini Disiksa Majikan Sampai Patah Tulang
Dikabarkan Meninggal, PMI Asal Subang Ini Ternyata Masih Hidup
29 Aug 2018 03:17 WIB | Redaksi | dibaca 1717 kali
Dikabarkan Meninggal, PMI Asal Subang Ini Ternyata Masih Hidup